<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0">
  <channel>
    <title>al-haromain.org</title>
    <link>http://al-haromain.org/</link>
    <description></description>
    <language>en-us</language>           
    <generator>Nucleus CMS v3.24</generator>
    <copyright>Â©</copyright>             
    <category>Weblog</category>
    <docs>http://backend.userland.com/rss</docs>
    <image>
      <url>http://al-haromain.org//nucleus/nucleus2.gif</url>
      <title>al-haromain.org</title>
      <link>http://al-haromain.org/</link>
    </image>
    <item>
 <title>Selamat Hari Raya &apos;Idul Fithri 1 Syawal 1429H</title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=50</link>
<description><![CDATA[<marquee direction="5"><span style="color:#3333ff;"><br />
</strong><strong><a href="http://al-haromain.org/media/3/20080927-Kartu Lebaranqu2.jpg">undefined</a></strong><strong><br />
</strong></span><strong><br />
</strong></marquee><br />
<marquee direction="5"><span style="color:#3333ff;"><strong>Allahu Akbar</strong><strong><br />
</strong><strong>Allahu Akbar</strong><strong><br />
</strong><strong>Allahu Akbar</strong><strong><br />
</strong><strong>Allahu Akbar Walillahilhamd</strong><strong><br />
</strong></span><strong><br />
</strong></marquee><br />
]]></description>
 <category>Umum</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=50</comments>
 <pubDate>Thu, 21 Aug 2008 10:42:17 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title></title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=47</link>
<description><![CDATA[<div style="text-align: center">AL KAYYIS<br />
MANUSIA  BERKECERDASAN ROBBANY</div><br />
<br />
<div style="text-align: center">&#8220;Orang yang cerdas adalah mereka yang selalu mengevaluasi(aktifitas)dirinya dan beraktivitas demi orientasi akhirat,(sedang)orang yang bodoh adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya dan berkhayal mendapatkan ridho Alloh(tanpa beramal sholih)&#8221;<br />
(HR. At Tirmidzi)</div><br />
<div style="text-align: left">Menurut Rosululloh SAW, orang yang cerdas ternyata bukanlah orang-orang yang bisa menghitung angka-angka dengan cepat atau memiliki daya hafalan tinggi, namun orang yang cerdas itu adalah :<br />
a.	Orang-orang yang selalu mengevaluasi aktivitasnya apakah halal atau haram, apakah boleh atau tidak boleh untuk dilakukan. Ketika kita melihat makanan, maka kecerdasan robbani akan berbicara apakah makanan itu halal atau haram, milik orang lain atau bukan baru kemudian enak atau tidak. Demikian pula jika melihat baju(busana) maka bagi Al Kayyis, akan berkata dan menimbang dalam hatinya apakah pakaian ini menutup aurat atau tidak, baru kemudian berkata pakaian tersebut modis atau tidak. Bagi Al Kayyis ketika bertemu dengan cewek cakep, pertama yang ada dalam benaknya apakah ia menjalankan syariat atau tidak baru berpikir pantas tidak menjadi istrinya. Ketika Al Kayyis melihat peluang bisnis maka yang pertama kali dipikirkan adalah apakah bisnis ini sejalan dengan syariat atau tidak? Bukannya menguntungkan secara materi saja.<br />
b.	Termasuk Al Kayyis, jika dalam aktifitasnya selalu berorientasi pada pasca kematian yaitu akhirat, dunia yang abadi setelah kehidupan ini.<br />
<br />
Bagi Al Kayyis kecintaanya pada Alloh SWT melebihi kesenangannya terhadap dunia dan sekitarnya.Baginya bekerja hanyalah sebagai sarana untuk bisa menggapai kecintaan pada-Nya. Segala kegiatan dalam kehidupannya di dunia dilakukan semata-mata ditujukan pada kehidupan akhirat, itulah kebahagiaan sejati yang selalu dicarinya.<br />
<br />
Alkisah ada seorang perempuan yang kebingungan karena telah dipinang secara bersamaan oleh dua orang pria. Keduanya sama-sama sesuai dengan kriterianya, maka ditengah-tengah kebingungannya ada seorang kyai yang memberikan saran kepadanya agar ketika bangun tidur yang siapa yang ada dalam pikirannya pertama kali itulah orang yang paling dicintai. Ketika hal itu dilaksanakan oleh sang wanita tersebut ternyata memang hanya satu yang muncul dalam benaknya.<br />
Kisah ini bisa kita jadikan panduan kepada siapa cinta ini kita tambatkan. Jika ketika kita bangun dari tidur yang terlintas dalam pikiran adalah toko, baju, rumah yang jelek, anak yang sakit berarti kecintaan kita masih pada dunia. Tapi jika kita bangun tidur pertama kali yang diingat adalah Sholat, berdzikir dan berdoa maka hati kita sesungguhnya telah tertambat pada Alloh SWT dan itulah Al Kayyis.<br />
	<br />
Namun sayang, di era sekarang yang sering nampak bukanlah Al Kayyis akan tetapi Al &#8216;Ajis (orang yang bodoh), yaitu manusia-manusia yang tidak mempunyai rasa malu baik pada dirinya,keluarganya terlebih lagi pada Alloh SWT. Mereka berpikir bahwa dirinya akan hidup abadi, dengan mengumbar nafsu demi kepentingan sesaat, yaitu popularitas dan kepentingan duniawi yang nisbi. Pikiran Al &#8216;Ajis tidak pernah menuju pada kehidupan setelah kematian apalagi tentang perhitungan dan mahkamah ilahi. Mereka tidak ingat bahwa Alloh Ta&#8217;ala akan mengambil segala yang dimiliki ketika masanya tiba. Ketampanan, jabatannya, kekayaannya semuanya tidaklah ada yang abadi. Ketika saatnya tiba semua akan lepas dari genggaman, karena segala kenikmatan hidup ini berakhir  dengan sebuah kematian.<br />
<br />
Ya Alloh jadikanlah kami termasuk Al Kayyis&#8221; </div>]]></description>
 <category>al Kayyis</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=47</comments>
 <pubDate>Mon, 30 Jun 2008 04:02:07 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title>Tentang........!!!</title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=46</link>
<description><![CDATA[Pertanyaan: <br />
<br />
Dahulu, sebelum kenal paham salaf, kita juga anti kepada bid&#8217;ah yang ada. Karena itu, kami juga memisahkan diri dari keumuman masyarakat dengan membangun sebuah masjid kecil diatas sebuah tanah yang diwakafkan seorang ikhwan. Maka kami mendirikan shalat lima waktu dan jumat menurut sunnah yang kami ketahui. Kini banyak ikhwan2 yang pindah dari tempat kami ke tempat lain yang jauh. Ada karena pekerjaan, futur, dan termakan fitnah sururi. Hingga yang shalat lima waktu dan jumat hanya sekitar lima orang dewasa dan beberapa anak-anak. <br />
<br />
Ada seorang dai menyuruh kami untuk meninggalkan mesjid itu dan bergabung dengan masjid awam terdekat sekitar 300 meter dari masjid kami dengan alasan agar mereka mengenal dakwah kami. Dan selama ini mereka memang tidak suka kepada kami dan masjid orang awam itu kadang menjadi markas tabligh ketika khuruj.<br />
<br />
Di negeri kami biasa terjadi masjid berdekatan. Kami masih berharap akan lahirnya generasi salafy untuk menghidupkan kembali masjid ini. Yang mewakafkan masjid bersedia membeli kembali tanah yang dia wakafkan jika memang boleh dan masjid harus diruntuhkan. Yang ingin kami tanyakan:<br />
1. Bagaimana nasihat sang dai ini?<br />
2. Apakah kami tetap mendirikan sholat lima waktu dan jumat di masjid kami?<br />
3. Atau hanya sholat lima waktu di masjid kami dan jumat dengan masyarakat umum?<br />
4. Bolehkah yang mewakafkan membeli lagi tanah itu kembali?<br />
5. Berikan kami nasihat dan bimbingan dalam masalah ini!  <br />
<br />
<br />
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi -Semoga Allah senantiasa menjaganya- menjawab: Segala puji hanya milik Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabatnya.<br />
<br />
1. Pertama-tama: Menurut pandanganku, tinggallah kalian di Masjid kalian, itu lebih baik bagi kalian daripada kalian kumpul-kumpul bersama Jamaah Tabligh. Kedua: Saya beritahu kalian bahwa Jamaah Tabligh adalah khurafiyyun (penganut khurafat), mereka memiliki keyakinan-keyakinan kepada oran-orang mati dari pengikut tarikat-tarikat sufiyah Diubandiyah. Mereka berjalan di atas empat macam tarikat sufiyah: Jusytiyah, Sahrawardiyah, Qadiriyah dan Naqsyabandiyah. Dan mereka memotong dzikir Laa Ilaahi Illallaah, menjadi: Laa Ilaaha, dan mengulang-ulangnya 200 atau 300 kali, kemudian mereka membaca Illallaah 200 atau 300 kali.<br />
<br />
Dan para ulama Ahlussunnah mengatakan: barangsiapa yang memisah kalimat nafi (penafian: yaitu Laa Ilaaha) dari kalimat Itsbat (Penetapan: yaitu Illallaah), dia telah kafir. <br />
<br />
Dan mereka memiliki khurafat-khurafat dan bid&#8217;ah-bid&#8217;ah yang banyak sekali. Wajib bagi kalian untuk tidak bergaul dengan mereka. Dan apabila kalian sanggup untuk menasihati mereka, nasihatilah mereka. Apabila mereka menerima nasihat kalian (itu yang diharapkan &#8211;penerj) dan saya kira mereka tidak akan menerimanya, dan apabila mereka tidak menerima nasihat kalian maka tinggalkanlah mereka dan menjauhlah dari mereka. Dan Allah Ta&#8217;aala berfirman, &#8220;Berilah peringatan, sesungguhnya kamu (Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam) adalah pembawa peringatan, dan kamu tidak berkuasa atas mereka&#8221;. <br />
<br />
Hanya saja wajib bagi kalian memperingatkan kaum muslimin dari mereka dan membenci mereka di dalam hati-hati kalian. Hanya kepada Allah kita memohon taufiq.<br />
<br />
2. Jawaban saya: Iya. Tetaplah kalian di sana, selamatnya aqidah kalian lebih baik daripada kalian berkumpul-kumpul dengan kaum musyrikin.<br />
<br />
3. Apabila sang imam bersih dari aqidah-akqdah ini maka tidak mengapa. Adapun kalau aqidahnya tidak bersih darinya, maka yang utama tetaplah kalian seperti sekarang ini.<br />
<br />
4. Tidak boleh bagi sang wakif (pemberi wakaf) untuk membeli wakafnya kembali. Karena wakaf apabila ucapan seseorang jelas bahwa itu adalah wakaf, maka barang itu tetap sebagai wakaf sepanjang masih ada langit dan bumi, sebagaimana datang keterangan akan yang demikian ini pada hadits yang shahih. Hanya kepada Allah kami mengharapkan taufiq.<br />
<br />
<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Ditanyakan dan ditranskrip oleh Al Ustadz Muhammad Cahyo kepada Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi &#8211;Semoga Allah senantiasa menjaganya-. Jazakumullahu khairan  <br />
]]></description>
 <category>Umum</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=46</comments>
 <pubDate>Sun, 22 Jun 2008 05:59:34 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title></title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=45</link>
<description><![CDATA[<b>MANUSIA TERCIPTA DALAM KELEMAHAN</b><div style="text-align: center"></div><br />
<br />
<br />
Alloh Subhanahu wata'ala berfirman : "Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah" QS. an Nisa:28<br />
Dalam ayat ini terkandung banyak hikmah yang senantiasa mampu difahami oleh seorang muslim yang terbina. Hikmah2 itu adalah :<br />
1. Arahan agar bersikap meringankan (takhfif) dan menampakkan keistimewaan agama ini yg berupa tidak adanya kesusahan (adamul haraj) didalamnya. Jadi kemudahan merupakan salah satu pondasi dan prinsip dasar syariat Islam dimana dari sanalah kemudian muncul aneka ragam keringanan-keringanan. Seperti inilah yang selalu diperintahkan Rasullulloh shallallohu alaihi wasallam sendiri kepada para duta dakwah yang Beliau kirim dalam misi penyebaran agama. Beliau berpesan kepada Muadz bin Abu Musa : "Bersikaplah memudahkan dan jangan kalian berdua bertindak menyulitkan", Beliau juga berpesan : "Sesungguhnya kalian hanya diutus untuk memberikan kabar gembira, bukan membuat orang-orang lari".<br />
2. Manusia itu lemah dan karena kelemahan ini, ia lemah tidak berdaya melawan hawa nafsu sehingga ia tidak sabar dari mengikuti syahwatnya. Rasullulloh shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Kalian tidak sempurna iman sehingga keinginannya (hobinya) adalah mengikuti apa yang aku bawa", HR. Dailami dalam Musnad al Firdaus. Beliau shallallohu alaihi wasallam juga bersabda : "Jagalah diri kalian, niscaya para istri kalian juga menjaga diri. Berbaktilah kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian". HR Thabarani. <br />
Abu Huroirah ra. berdo'a : "Ya Allah, saya memohon perlindunganMu dari berbuat zina dan mencuri". Karena inilah ditanyakan kepadanya : "Usia sudah tua sementara anda adalah sahabat Rasullulloh shallallohu alaihi wasallam, apakah anda khawatir akan berbuat zina dan mencuri?", Abu Hurairah ra menjawab :"Bagaimana diriku merasa aman sedangkan iblis masih hidup?".<br />
3. Habib Abdulloh bin Alawi al Haddad berkata :[Manusia itu lemah dan karena kelemahan ini ia lebih banyak berpegang dengan persangkaan-persangkaan (tawahhumat) daripada bersandar kepada keyakinan-keyakinan (yaqiiniyat)] dikatakan dalam sebuah hikmah : "Hendaknya kepercayaan orang beriman lebih kuat kepada Allah daripada kepada apa yang dalam genggaman tangannya".<br />
4. Manusia itu lemah, dan karena kelemahan inilah satu sama lain saling membutuhkan pertolongan. Apalagi pada kenyataannya tidak ada seorangpun kecuali pada satu sisi ia menggunakan orang lain sementara disisi lain ia dipergunakan oleh orang lain lagi, seperti ditegaskan Allah dalam firmanNya : "Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian lain" QS az Zukhruf : 32. Dengan demikian satu dengan yang lain menjadi sarana berjalannya kehidupan. Orang ini dengan hartanya, sedang yang lain dengan pekerjaannya. Sehingga sempurnalah putaran roda kehidupan. Jadi bukan karena kesempurnaan yang dimiliki orang kaya (al Muusi') dan bukan pula karena kekurangan yang ada pada orang yang pas-pasan (al Muqtir). Rasullulloh shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Pemimpin kaum adalah pelayan mereka", HR al Khathib. Dan dikatakan pula : "Manusia, sebagian dari mereka adalah milik sebagian yang lain meski mereka tidak merasa bahwa sebenarnya mereka adalah pelayan".<br />
<br />
Karena itu semua, dalam firmanNya, Allah memberikan peringatan/tahdzir kepada kita agar tidak tertipu diri sendiri serta upaya mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan. Dia berfirman : "Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang baik. (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas AmpunanNYa. Dan Dia lebih mengetahui ketika Dia menciptakan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa", QS an Najm:31-32. "...dan andai tidak ada anugrah Allah atas kalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". QS an Nuur:21<br />
<br />
Wallahu a'lam bisshowab ]]></description>
 <category>Tausiyah Abina Ihya' Ulumiddin</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=45</comments>
 <pubDate>Sat, 21 Jun 2008 06:19:06 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title>Manusia Tercipta Dalam Kelemahan</title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=43</link>
<description><![CDATA[oleh | KH. M. Ihya' Ulumiddin<br />
<br />
Allah Swt. berfirman:<br />
<i>"dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah" </i>Q.S. An Nisa': 28<br />
<br />
Dalam ayat ini terkandung banyak hikmah yang senantiasa mampu dipahami oleh seorang muslim yang terbina. Hikmah-hikmah itu adalah:<br />
<br />
1. Arahan agar bersikap meringankan (takhfif) dan menampakkan keistimewaan agama ini yang berupa tidak adanya kesusahan (adamul haraj) di dalamnya. Jadi kemudahan merupakan salah satu pondasi dan prinsip dasar syariat Islam di mana dari sanalah kemudian muncul aneka ragam keringanan-keringanan. Seperti inilah yang selalu diperintahkan Rasulullah Saw. sendiri kepada para duta dakwah yang Beliau kirim dalam misi penyebaran agama. Beliau berpesan kepada Muadz dan Abu Musa, "Bersikaplah memudahkan dan jangan kalian berdua bertindak menyulitkan." Beliau juga berpesan, "Sesungguhnya kalian hanya diutus untuk memberikan kabar gembira, bukan membuat orang lari."<br />
<br />
2. Manusia itu lemah dan karena kelemahan ini ia lemah tidak berdaya melawan keinginannya sehingga ia tidak sabar dari meninggalkan keinginan-keinginan. Rasulullah Saw. bersabda, "Kalian tidak sempurna iman sehingga keinginannya (hobinya) adalah mengikuti apa yang aku bawa." H.R. Dailami dalam Musnad al Firdaus. Beliau Saw. juga bersabda, "Jagalah diri kalian, niscaya para istri kalian juga akan menjaga diri. Berbaktilah kepada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian." H.R. Thabarani.<br />
<br />
Abu Hurairah r.a. berdoa, "Ya Allah, saya memohon perlindunganMu dari berbuat zina dan mencuri." karena inilah ditanyakan kepadanya, "Usia sudah tua sementara anda adalah sahabat Rasulullah Saw., apakah anda khawatir akan berbuat zina dan mencuri?" Abu Hurairah r.a. menjawab, "Bagaimana diriku merasa aman sedangkan iblis masih hidup?"<br />
<br />
3.  Habib Abdullah bin Alawi al Haddad berkata, "Manusia itu lemah dan karena kelemahan ini ia lebih banyak berpegang pada prasangkaan-prasangkaan (Tawahhumat) daripada bersandar kepada keyakinan-keyakinan (Yaqiiniyyat). Dikatakan dalam sebuah hikmah, "Hendaknya kepercayaan orang beriman lebih kuat kepada Allah daripada kepada apa yang ada dalam genggaman tangannya."<br />
<br />
4. Manusia itu lemah dan karena kelemahan inilah satu sama lain saling membutuhkan pertolongan. Apalagi pada kenyataannya tidak ada seorangpun kecuali pada satu sisi ia menggunakan orang lain sementara di sisi lain ia dipergunakan oleh orang lain seperti ditegaskan Allah dalam firmanNya, "kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian lain." Q.S. Az Zukhruf: 32. Dengan demikian satu dengan yang lain menjadi sarana berjalannya kehidupan. Orang ini dengan hartanya, sedang yang lain dengan pekerjaannya sehingga sempurnalah putaran roda kehidupan. Jadi bukan karena kesempurnaan yang dimiliki orang kaya (al Muusi') dan bukan pula karena kekurangan yang ada pada orang yang pas-pasan (al Muqtir). Rasulullah Saw. bersabda, "Pemimpin kaum adalah pelayan mereka." H.R. al Khathib. Dan dikatakan pula, "Manusia, sebagian dari mereka adalah milik sebagian yang lain meski mereka tidak merasa bahwa sebenarnya mereka adalah para pelayan."<br />
Karena itu semua, dalam firmanNya, Allah memberikan peringatan/tahdzir kepada kita agar tidak tertipu diri sendiri serta supaya mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan. Dia berfirman, "Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik, (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih Mengetahui ketika Dia Menciptakan kamu dari tanah dan ketika kamu kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa" Q.S. An Najm: 31-32. ".... dan andai tidak ada anugerah Allah atas kalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian yang bersih (dari perbuatan keji dan munkar) selamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Q.S. An Nuur: 21.<br />
<br />
Wallahi yatawaliiljamii'a biru'aayatih.]]></description>
 <category>Tausiyah Abina Ihya' Ulumiddin</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=43</comments>
 <pubDate>Mon, 5 May 2008 07:12:17 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title>Pleonasme</title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=42</link>
<description><![CDATA[<b>oleh | K.H.M. Ihya' Ulumiddin</b><br />
<br />
Allah Swt. berfirman, "dan orang-orang yang berpaling dari (perbuatan atau perkataan) yang tidak berguna (al laghw)." Q.S. al-Mu'minun: 3.<br />
<br />
al laghw memiliki arti: 1. Ucapan yang salah, 2. Berlebihan dalam berucap (pleonasme) dan segala hal yang tidak berguna baik ucapan atau perbuatan, 3. Setiap kata yang terlempar yang semestinya ditinggalkan seperti bolong, gurauan dan ejekan. (...berpaling) yakni dalam mayoritas waktu berpaling dari segala hal yang tidak berguna karena mereka sibuk dalam kesungguhan dan amal sholeh.<br />
<br />
Salah satu ciri-ciri hamba sholeh yang disebutkan Allah dalam ayat ini adalah keberpalingan mereka dari al laghw. Sementara di antara anggota tubuh yang paling susah terjaga oleh manusia adalah lisan karena tak ada kepayahan dalam mengucapkannya dan tak ada biaya untuk menggerakkannya sehingga terjadi banyak anggapan mudah dalam menjaga dari bahayanya serta mengantisipasi jerat-jeratnya. Hal ini menyebabkan lisan menjadi alat canggih setan dalam usaha penyesatan.<br />
<br />
Berpaling dari segala al laghw adlaah karakter kesungguhan dan barang siapa berkarakter kesungguhan dalam semua urusannya maka jiwanya akan sempurna dan tidak pernah akan muncul darinya kecuali aktivitas yang bermanfaat. Sementara bersungguh-sungguh, serius adalah bagian dari karakter Islam.<br />
<br />
Sungguh Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang hal terbesar yang menyebabkan manusia masuk surga maka Beliau bersabda, "Taqwa kepada Allah dan kebaikan budi pekerti." dan Beliau juga ditanya tentang hal terbesar yang menjadikan manusia masuk neraka maka Beliau bersabda, "Dua lubang; mulut dan kemaluan." H.R. Turmudzi. Diriwayatkan dari Beliau Saw. bersabda, "Barangsiapa menjaga keburukan perut, kemaluan dan lisannya maka wajib baginya surga." H.R. Abu Manshur Ad Dailami. Ketiga macam-macam syahwat Inilah yang menjadikannya banyak manusia mengalami kehancuran.<br />
<br />
Dalam hadits panjang dari Muadz bin Jabal r.a. Ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami dihukum sebab apa yang kami ucapkan? "Rasulullah Saw. menjawab, "Ibumu meratapi wahai Ibnu Jabal, bukankah tiada yang menyeret manusia ke mereka dengan posisi terbalik kecuali tali-tali lisan mereka?" H.R. Turmudzi - Hakim. Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba diangkat oleh Allah beberapa derajat karena mengucap satu kata yang meridhokan Allah dan sama sekali tidak disangkanya (ora nggraito. Jawa). Sesungguhnya seorang hamba terperosok ke neraka karena mengucapkan satu kata yang menjadikan Allah marah dan sama sekali ia tidak menyangka." H.R. Ahmad -  Bukhari.<br />
<br />
Maksud tidak menyangka adalah ia tidak merenungkan, tidak menoleh dan sama sekali tidak menganggap. Ia menyangka kata itu sedikit dan remeh, tetapi sebenarnya besar di sisi Allah. Karena itulah Nabi Saw. memberikan warning/tahdzir agar seseorang tidak begitu saja menceritakan segala yang didengarnya karena khawatir terjatuh dalam kebohongan. Beliau bersabda, "Cukuplah seseorang berdosa jika ia menceritakan semua yang didengarnya." H.R. Abu Dawud. Hal demikian bila orang tersebut sebelumnya tidak mencari kepastian (tatsabbut/klarifikasi) karena ia mendengar kebiasaan benar dan bohong. Maka bila begitu saja ia menceritakan semua yang ia didengar, sudah pasti ia juga ikut berbohong. Berbohong adalah memberitakan hal yang berbeda dengan kenyataan meski tidak sengaja. Rasulullah Saw. bersabda, "Sangat beruntung bagi orang yang menahan kelebihan lisannya dan mendermakan kelebihan hartanya." H.R. Baihaqi. "Hal terburuk yang diberikan kepada seseorang adalah lisan yang ngobros." H.R. Ibnu Abi Dunya.<br />
<br />
Seorang muslim yang terbina senantiasa menjauhi ucapan berlebihan yang termasuk di sini adalah membicarakan hal tiada berguna atau menambah ucapan melebihi kebutuhan dalam hal yang berguna - apalagi berbohong. Ucapan berlebihan tidak terbatas, ini berbeda dengan ucapan penting yang terbatas seperti dalam firman Allah, "Tiada kebaikan sama sekali dalam banyak bisikan mereka kecuali orang yang memerintahkan sedekah, kebaikan atau mendamaikan antara manusia." Q.S. an-Nisa': 114. karena itulah kita dilarang memberikan pujian berlebihan (al-Mubalaghah fi Tsana'), meski itu benar, karena ditakutkan setan menyeret kepada tambahan yang semestinya tidak diperlukan.<br />
<br />
Yazid bin Abu Hubeb berkata, "Ujian seorang alim adalah lebih senang berbicara daripada mendengarkan dengan seksama (Istima'). Jikalau ada orang yang bisa menggantikannya maka sungguh dalam Istima' ada keselamatan dan dalam berbicara ada pola (Tazyin), penambahan dan pengurangan." Ibnu Mas'ud r.a. berkata, "Aku peringatkan kepada kalian akan pembicaraan yang tiada guna. Cukuplah seseorang berbicara sekedar bisa menyampaikan maksudnya." dalam hikmah dikatakan, "Keselamatan manusia ada dalam menjaga lisan."<br />
<br />
<i>Wallahu 'alam bish showab.</i><i></i>]]></description>
 <category>Tausiyah Abina Ihya' Ulumiddin</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=42</comments>
 <pubDate>Mon, 7 Apr 2008 09:23:37 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title>Maha Suci Dzat yang Ketaatan Hamba-Nya Tidak Memberikan Manfaat kepada-Nya</title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=38</link>
<description><![CDATA[Dari Abu Dzarr al-Ghifari r.a. dari Nabi Saw. bahwa Allah Azza wajalla berfirman, “Wahai hambaKu, andai seluruh orang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin kalian menjadi seperti paling bertakwa hatinya seorang lelaki di antara kalian maka hal itu tidak menambah sedikitpun kekuasaanKu. Wahai para hambaKu, andai seluruh orang pertama dan terakhir kalian, manusia dan jin kalian menjadi seperti paling jeleknya hati seorang lelaki di antara kalian maka hal itu tidak mengurangi sedikitpun kekuasaanKu…” H.R. Muslim. Lihat Hadits Arbain nomor 24.Sedang ibadah yang karenanya manusia diciptakan, pertama, standar untuk mengetahui kadar syukur dan kufurnya. Allah berfirman, “Ini adalah termasuk anugerah Tuhanku agar dia menguji apakah aku bersyukur ataukah kufur. Dan barangsiapa yang bersyukur maka itu untuk dirinya sendiri dan barang siapa kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya Maha Mulia.” (Q.S. an-Nahl: 40). Kedua, hubungan (shilah) antara dirinya dengan Tuhannya dalam rangka mendekat kepada-Nya. Ketiga, sebagai tanda ketaatan dan sebagai, keempat, sarana (wasilah) mendapatkan cinta-Nya. Nabi Saw. bersabda, “HambaKu tidak berusaha mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hambaKu selalu berusaha mendekat kepadaKu dengan amal-amal sunnah sehingga Aku mencintainya…” (H.R. al-Bukhari).<br />
<br />
Kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah kehendak baik-Nya untuk hamba tersebut, kata Imam Nawawi. Dia mencintai hamba-Nya maka Dia menyibukkannya dengan berdzikir kepada-Nya. Dia menjaganya dari setan dan memfungsikan anggota tubuhnya dengan ketaatan. Hal ini menjadikan hamba tersebut menjaga pandangannya dari hal-hal haram. Ia tidak melihat sesuatu yang tidak halal baginya. Pandangannya adalah pandangan berfikir dan mengambil pelajaran. Ia tidak melihat sesuatu dari ciptaan-ciptaan kecuali menjadikannya sebagai dalil akan wujud Sang Pencipta. Ali r.a. berkata, “Aku tidak melihat sesuatu apapun kecuali aku melihat Allah sebelumnya.”<br />
<br />
Makna mengambil pelajaran (I’tibar) adalah membawa fikiran kepada kesimpulan akan kekuasaan Allah hingga manusia harus bertasbih, memuji Allah, bertahlil, mensucikan dan mengagungkan Allah. Dengan demikian menjadilah seluruh gerak dan aktivitasnya secara keseluruhan karena Allah:<br />
<br />
1.Ia tidak berjalan kecuali dalam hal yang berfaedah baginya.<br />
<br />
2.Tangannya tidak berbuat sesuatu yang sia-sia. Sebaliknya, seluruh gerak dan diamnya adalah karena Allah sehingga seluruh yang dilakukannya menjadi bernilai pahala.<br />
<br />
3.Ia tidak menganggap remeh sedikit kebaikan, karena tekadnya adlaah mencari ridha Allah yang tidak ada pilihan baginya kecuali harus bersemangat, ikhlas dan serius (jujur) sebab penerimaan Allah yang menjadikan hal kecil menjadi besar, hal sedikit menjadi banyak dan yang belakangan menjadi terdepan adalah tergantung keseriusan (kejujuran) bersama Allah (itulah anugerah dari Allah dan cukuplah Allah sebagai Dzat Maha Mengetahui). (Q.S. an-Nisa’:70). Bukan mencari ridha manusia, bahkan dalam suatu saat terpaksa harus menjadikan marah manusia di jalan mencari ridha Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Barang siapa mencari ridha Allah dengan kemarahan manusia maka Allah pasti mencukupinya dari ketergantungan kepada manusia. Barang siapa yang mencari ridha manusia dengan kemarahan Allah maka Allah menjadikannya bergantung kepada manusia.” (H.R. Turmudzi, Qudhai dan Ibnu Asakir dengan sanad Hasan).<br />
<br />
4.Ia tidak tertipu oleh amal yang telah dilakukan sesuai dengan bisikan doanya, “Ya Allah, tidak akan ada orang yang bisa menolak apa yang Engkau tolak. Dan usaha kuat orang yang giat (beribadah) di sisi-Mu, tidak memberikan manfaat”, tetapi ia senantiasa berharap anugerah dan rahmat-Nya dan bergembira karena itu. Allah berfirman, “Katakanlah; Dengan anugerah dan rahmat Allah maka karena itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka usahakan.” Q.S. Yunus: 58.]]></description>
 <category>Tausiyah Abina Ihya' Ulumiddin</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=38</comments>
 <pubDate>Mon, 4 Feb 2008 03:33:05 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title>Musyker Persyarikatan Dakwah Al-Haromain</title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=37</link>
<description><![CDATA[InsyaAllah pada tanggal 9-10 Pebruari 2008 akan dilaksanakan musyawarah kerja persyarikatan di sentra dakwah Ketintang Surabaya. Peserta adalah seluruh pengurus harian persyarikatan ditambah dewan pakar dan dewan pembina ditambah ketua cabang yanag berjumlah 16 cabang. aktivitas ini dimaksudkan untuk merancang kegiatan selama satu tahun 2008. mudah-mudahan sukses menghasilkan program kerja yang terbaik. mohon dukungan dari seluruh cabang untuk bisa hadir dalam acara tersebut, guna memberikan masukan-masukan informasi yang akurat sehingga program kerja real untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.]]></description>
 <category>Umum</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=37</comments>
 <pubDate>Sat, 26 Jan 2008 03:21:36 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title>Silaturrahim</title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=36</link>
<description><![CDATA[<b>Tausiyah Bulan Januari 2008 <br />
oleh | Abi Ihya’  Ulumiddin<br />
6 Januari 2008 - Sentra Dakwah Al Haromain Ketintang Surabaya<br />
</b><br />
Islam begitu menghargai hubungan sanak famili (Rahim) yang mengikat manusia satu sama lain melalui hubungan nasab atau kerabat. Penghargaan ini tidak pernah dikenal oleh kemanusian dalam agama, aturan atau syariat apapun selain Islam. Islam mewasiatkan dan mendorong agar sanak famili disambung serta memberikan ancaman atas orang yang memutuskannnya. Allah berfirman, “Dan takutlah kalian kepada Allah yang dengan mempergunakan (namaNya) kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.” Q.S. an-Nisa’: 1. Pertama Allah memerintahkan Taqwa dan selanjutnya menyebutkan Arham (jamak dari Rahim) untuk menegaskan akan keagungannya.Dalam perasaan muslim yang terbina, keunggulan dan posisi penting Rahim cukup dibuktikan dengan banyakknya ayat yang memerintahkan agar ia dijalin dan dibina secara baik selain Iman dan berbuat baik (Ihsan) kepada kedua orang tua (lihat Q.S. al-Isra’: 24, 26, dan an-Nisa’: 36) serta banyaknya hadits yang mendorong hal tersebut. Dari Abu Ayyub al Anshari ra: Seorang bertanya, “Wahai Rasulullah, berikan kabar kepada saya akan amal perbuatan yang bisa memasukkan saya ke dalam surga!” Nabi Saw. bersabda, “Kamu menyembah Allah dan  tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, memberikan zakat dan menyambung sanak famili.” Muttafaq alaih. Hal tersebut dikuatkan oleh hadits panjang tentang dialig Abu Sufyan dan Heraclius. Heraclius bertanya, “Apa yang diperintahkan olehnya (Rasulullah Saw.) di antara kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Dia mengatakan: “Sembahlah Allah yang Esa dan jangan menyekutukannya dengan apapun. Tinggalkanlah apa yang dikatakan para orang tua kalian.”” Abu Sufyan melanjutkan, “Dia juga memerintahkan kepada kami agar shalat, kejujuran, menjaga diri (Afaf) dan menyambung sanak famili” Muttafaq alaih. Jadi menyambung sanak famili berada bersama menyembah dan mengesakan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpegang dengan Afaf dan kejujuran pada satu rangkaian dalam bilangan identitas pokok agama yang suci ini.<br />
<br />
Sungguh Allah benar-benar mengagungkan urusan sanak famili ketika Dia menjadikannya sebagai bagian yang terkait erat dengan namaNya, Ar Rahman tak ubahnya seperti jaringan saraf-saraf. Dia begitu mengagungkannya sehingga menjadikannya dari penggalan namaNya “Aku Maha Pengasih (ar-Rahman) dan Aku Menciptakan Rahim dan mengeluarkannya dari namaKu, (karena itu) barang siapa menyambungnya maka Aku pasti menyambungnya dan barang siapa memutusnya maka Aku pun pasti memutusnya.” (Dikeluarkan oleh al Bukhari dalam al Adab al Mufrad). Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya Rahim adalah bagian (cabang) dari Ar Rahman, ia berkata, “Ya Tuhanku sesungguhnya saya dizhalimi, Tuhanku sesungguhnya saya diputuskan…” Allah lalu menjawabnya, “Tidakkah kamu rela Aku memutus orang yang memutusmu dan Aku menyambung orang yang menyambungmu?” (Dikeluarkan oleh al Bukhari dalam al Adab al Mufrad). Di sini ada isyarat bagi muslim yang terbina bahwa orang yang menyambung diberikan kenikmatan dalam naungan rahmat dan sesungguhnya orang yang memutuskannya terhalang dari rahmat itu. Jika demikian berarti rahim bagi orang yang menyambung adalah berkah dalam rizki dan berkah dalam umur, menambah dan menjadikan hartanya berkembang serta memanjangkan umurnya. Nabi Saw. bersabda, “Barang siapa suka dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung sanak familinya.” Muttafaq alaih. “Pelajarilah dari nasab-nasab apa yang bisa kalian gunakan untuk menyambung sanak famili kalian, sebab menyambung sanak famili adalah kecintaan dalam keluarga, meningkatkan harta benda dan memanjangkan umur.” H.R. Turmudzi.<br />
<br />
Rahim juga merupakan penghalang surga bagi orang yang memutusnya, ia adalah sumber malapateka dan bencana karena Rahmat tidak akan turun kepada suatu kaum yang di antara mereka ada orang yang memutuskan sanak famili sebagaimana ditegaskan dalam hadits, “Tidak masuk surga, orang yang memutuskan sanak famili.” Muttafaq alaih. “Sesungguhnya Rahmat tidak turun kepada suatu kaum yang di antara mereka ada orang yang memutuskan sanak famili.” H.R. Baihaqi.<br />
<br />
<b>Silaturrahim Dalam Makna Lebih Luas<br />
</b>Silaturrahim tidak hanya tumbuh dari prinsip zakat atau sedekah dalam arti luas berupa memberi harta atau non harta saja, tetapi silaturrahim juga bisa berupa kunjungan yang bisa menguatkan unsur-unsur kerabatan dan lebih luas lagi bisa terwujud dalam saling mengasihi, saling menasehati, saling memberi pertolongan, mendahulukan orang lain dan sikap obyektif. Ia juga bisa berupa ucapan yang baik, pertemuan yang menyenangkan, wajah sumringah penuh senyuman dan lain-lain dari aneka ragam kebaikan yang bisa melahirkan rasa cinta dalam hati, dan bahkan oleh Nabi Saw. ia diperintahkan dalam bentuk yang sangat sederhana dan sangat minim biaya dengan sabda Beliau, “Basahilah ikatan sanak famili kalian meski hanya dengan salam.” H.R. Bazzar. “Sedekah kepada orang miskin adalah sedekah dan kepada pemilik hubungan sanak famili adalah sedekah dan shilah (penyambung).” Nasai-Turmudzi.<br />
<br />
<b>Makna Lain Silaturrahim</b><br />
1.Masuk dalam kategori Silaturrahim dalam makna spesifik (khossoh) adalah ikatan antara sesama manusia dalam ikatan ilmu seperti dikatakan Imam Syafii ra, “Ilmu adalah ikatan seperti ikatan nasab.” Jika Nabi Saw. bersabda,”al Wala’ (jasa memerdekakan) adalah ikatan seperti ikatan nasab yang tidak bisa dijual atau dihibahkan.” Maka tidak diragukan lagi keberadaan ilmu sebagai hal paling utama yang dimanfaatkan oleh manusia dari orang lain yang harus betul-betul dijaga haknya untuk disambung dan diikat lebih kokoh lebih kuat. Ini karena ilmu adalah sumber keberuntungan dunia dan akhirat. Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Di dunia ini manusia tidak diberi sesuatu lebih utama melebihi Nubuwwah. Dan setelah Nubuwwah tidak ada yang lebih utama dari ilmu dan fiqh ditanyakan, “Tentang siapa ini? Sufyan menjawab, “ Semua ahli fiqh. Nabi Saw. bersabda, “ Ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti ia mengambil bagiannya yang sempurna.” Dikeluarkan al Bukhari dalam at Tarikh al Kabir.<br />
2.Masuk dalam kategori silaturrahim dalam makna universal (aammah) adalah ikatan yang mengikat sesama manusia yang berupa ikatan iman yang menuntut haknya agar dijaga dalam rasa saling mencintai karena Allah di antara mereka seperti dalam firmanNya “Sesungguhnya orang-orang beriman itu saudara.” Q.S. al Hujurat: 1. dan sabda Rasulullah Saw.,” Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam memberikan kasih sayang adalah laksana tubuh yang jika ada satu anggota yang sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan panas.” Muttafaq alaih. “Jangan saling memutuskan, jangan saling berpaling, jangan saling membenci dan jangan saling iri hati. Jadilahkalian bersaudara seperti Allah memerintahkan kepada kalian.” H.R. Muslim. “Tidak sempurna iman salah seorang kalian sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri.” Muttafaq alaih. “Orang-orang yang berbelas kasih akan dikasihi oleh Dzat Maha Pengasih. Kasihanilah orang yang ada di bumi niscaya orang yang ada di langit mengasihi kalian.” H.R. Bukhari, Humaidi, Ahmad Baihaqi, Abu Dawud, Turmudzi Hakim.<br />
<br />
Abuya, As Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki dalam bukunya At Thali’ As Said hal 13 mengatakan, sabda Nabi “Yarhamkum”, kami meriwayatkan dengan jazem sebagai jawaban dari perintah dan rafa’ (Yarhamukum) sebagai doa. Sementara Sayyid Amin Abidin juga meriwayatkan dengan Nashab (yarhamakum). Abuya melanjutkan, ini sangat dhaif, sedang jumhur mantap bahwa riwayat (asli) adalah Jazem. Nabi Saw. besabda, “Kalian tidak akan beriman (secara sempurna) sehingga kalian saling mengasihi.” Para sahabat berkata, “Kami semua orang yang pengasih!” Beliau bersabda, “Sungguh bukanlah seperti kasih sayang salah seorang kalian kepada temannya, tetapi kasih sayang itu adalah kasih sayang kepada orang banyak.” H.R. Thabarani. Karena itulah Rasulullah Saw. menganjurkan agar Salam disebarkan luaskan di antara sesama muslim dengan sabda Beliau, “Demi Dzat yang diriku berada dalam genggamanNya, kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai. Apakah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebar luaskanlah salam di antara kalian.” H.R. Muslim, agar ia (salam) menjadi pembuka hati untuk mencintai dan saling bertemu dalam kebaikan guna mencari kecintaan dan keridhaan Allah dengan jiwa yang pemurah, hati yang bersih dan kasih sayang kepada umat.]]></description>
 <category>Tausiyah Abina Ihya' Ulumiddin</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=36</comments>
 <pubDate>Thu, 10 Jan 2008 12:52:07 +0000</pubDate>
</item><item>
 <title>Panggilan Kemenangan</title>
 <link>http://al-haromain.org/index.php?itemid=35</link>
<description><![CDATA[Oleh | Ayub Syafii<br />
<br />
Andaikata salat boleh dilakukan dengan menggunakan bahasa masing-masing, bukankah akan lebih mudah dikerjakan? Mengapa mesti dengan bahasa Arab? Apakah Allah hanya mengerti bahasa Timur Tengah itu? Demikian sering tanda tanya ketidakpuasan mengental di hati sejumlah masyarakat yang gandrung kembali kepada tradisi nenek moyang atau dengan alasan agar lebih memahami bacaan salat.<br />
Alkisah, seorang nenek dari Jawa Tengah bertetangga dengan nenek berasal dari Cianjur. Kedua-duanya sama-sama totok tidak mengerti bahasa lain. Pernah mereka terlibat dalam ketegangan meruncing akibat salah paham. Ceritanya, karena amat baik hati, melihat nenek Jawa Tengah kehabisan minyak tanah, si nenek Cianjur tanpa diminta mengantarkan sekaleng ke rumah tetangganya itu.<br />
Dengan mempergunakan bahasa Sunda nenek itu bertanya, “Ini minyak tanah, ditaruh di mana?”<br />
Meskipun samar-samar, nenek Jawa itu tahu maksudnya sebab ada kata di mana, jadi ia menjawab di tuang saja,” dalam bahasa Jawa.<br />
<br />
Tentu saja nenek Cianjur itu marah, lantaran dituang artinya dimakan, menurut bahasa Sunda. Nenek Jawa itu disangka menghina dan mempermainkan pertolongan orang lain. Untung akhirnya masalah itu dapat diselesaikan oleh pamong desa setempat.<br />
Itu kejadian di luar masjid. Tetapi, begitu mereka bersama-sama hendak bersalat jamaah di dalam masjid, persoalan bahasa tidak menjadi penghalang lagi karena baik yang Sunda maupun Jawa salat menggunakan bahasa yang sama, bahasa Alqur’an.<br />
<br />
Bayangkan, apabila imam dan makmum-makmumnya memakai bahasa masing-masing bukankah waktu membaca “amin” saja suasana salat bisa gaduh? Orang Arab menjawab “amin.” Orang Jakarta mengatakan “kabulkanlah”. Orang Inggris menjawab “may God bless us”. Orang Jawa Tengah berseru “”lah mbok dingahi sih”. Orang Solo menggumam “mugi-mugi dipun sembadani”.<br />
Dan umpamanya dibuat masjid untuk tiap bahasa sendiri-sendiri, alangkah banyaknya masjid harus didirikan di negeri kita. Serta tak dapat dibayangkan betapa ributnya tiap kali azan di kumandangkan. Ada yang azan “Allah nan Gadang”. Ada yang “Allah Sing Gede Nemen”. Ada yang azan “Allah Nu Agung Pisan”. Ada pula yang “Allah Ingkang Ageng Sanget”. Wah, kacau balau.<br />
Nabi saw. sangat bijaksana ketika menentukan bagaimana azan memanggil umat untuk salat berjamaah harus dilafalkan. Mula-mula ada yang mengusulkan agar seruan berjamaah dilakukan dengan mengibarkan bendera isyarat. Sahabat lain menganjurkan supaya dengan meniup terompet. Ada lagi yang punya saran untuk membunyikan lonceng atau genta. Semuanya tidak disetujui oleh Nabi saw. Beliau menyepakati lafal as-shalaat seperti diusulkan untuk beberapa masa didengungkan oleh Bilal dari puncak Ka’bah. Cuma beberapa waktu kemudian disempurnakan menjadi as-shalaatu jaami’ah oleh Bilal.<br />
<br />
Namun, pada suatu malam seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid dalam tidurnya bermimpi. Ia melihat seorang lelaki berjubah serba hijau mondar-mandir di depannya sambil membawa genta. Abdullah menegurnya dan berkata ingin membeli genta itu.<br />
<br />
“Untuk apa?” tanya lelaki berjubah serba hijau itu keheranan. <br />
<br />
“Untuk menyerukan umat supaya salat berjamaah”, jawab Abdullah bin Zaid mengemukakan keinginannya.<br />
<br />
Lelaki itu tersenyum seraya menggeleng, “Tidak layak memanggil orang menyembah Allah Maha Besar dengan membunyikan genta. Dengarkanlah seruan yang lebih tepat.”<br />
Lantas lelaki berjubah itu menerangkan lafal azan seperti yang kita kenal sekarang. Hikmahnya, ucapan Allahu Akbar adalah guna mengingatkan manusia bahwa yang besar hanya Allah. Manusia dan kehidupannya di dunia sungguh kecil. Yang Maha Besar hanyalah Allah dan kehidupannya di hadiratNya. Disusul dengan lafal syahadatain, mengandung makna bahwa manusia tidak cukup hanya bertuhan saja, melainkan harus mengikuti agama untuk mencapai ibadah yang benar. Dan karena Muhammad adalah rasul terakhir. Baru setelah itu diserukan untuk mengerjakan salat dengan lafal hayya ‘alas-shalaat. Sebab salat baru diterima bila mengikuti cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bila sudah salat, berarti kemenangan pun mudah diperoleh lantaran salat adalah permulaan kemenangan mengatasi godaan hawa nafsu. Dan perjuangan mengalahkan hawa nafsu adalah kemenangan di atas perjuangan menaklukan musuh di mana pun. Setelah kemenangan itu direbut, tidak ada yang patut dipekikkan kecuali menyerukan kembali kebesaran Allah, karena tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolonganNya. Allah yang mana yang harus kita agungkan? Tidak lain adalah Allah yang tiada tuhan kecuali dia.<br />
<br />
Pada waktu rekaman mimpi ini diberitahukan kepada Rasulullah saw., beliau dengan gembira menyetujui sebagai lafal azan semenjak saat itu. Oleh Bilal, tiap kali azan subuh ditambahkan kalimat as-shalaatu khairan minan-naum, shalat itu lebih utama daripada tidur, setelah kalimat hayya ‘alal-falah.<br />
]]></description>
 <category>Umum</category>
<comments>http://al-haromain.org/index.php?itemid=35</comments>
 <pubDate>Wed, 19 Dec 2007 03:49:10 +0000</pubDate>
</item>
  </channel>
</rss>